Padang, Matakata.co – Wakil Ketua DPRD Sumatra Barat (Sumbar), Evi Yandri Rajo Budiman mengalokasikan dana pokok-pokok pikiran (pokir) sebesar Rp106 juta untuk mendukung Lomba Lintas Alam Telusur Jejak Perjuangan Harimau Kuranji (LLA-TJPHK) V Tahun 2026.
Adapun ajang yang diikuti ratusan pecinta alam ini dilepas di SMAN 11 Padang, Bungus Teluk Kabung, Jumat (9/10/2026).
Evi Yandri menegaskan, dukungan anggaran ini merupakan komitmennya untuk menghadirkan aktivitas positif bagi generasi muda melalui olahraga dan kecintaan alam. Lebih dari itu, ajang ini mengemban misi edukasi guna mengenalkan kembali sejarah lokal.
“Batalyon Harimau Kuranji merupakan laskar perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya di Kota Padang. Nilai histori ini yang harus diwarisi pemuda, bukan sekadar adu ketahanan fisik,” ujar Evi Yandri.
Ia menambahkan, daya tarik lomba ini terus meluas ke luar daerah. Tahun ini, selain dari 19 kabupaten/kota di Sumbar, peserta juga datang dari Pekanbaru (Riau) dan Kerinci (Jambi). Bahkan, terdapat 10 tim asal Sumatra Utara yang berminat bergabung pada penyelenggaraan tahun depan.
Pembukaan kegiatan ini diresmikan oleh Wakil Gubernur Sumbar, Vasco Ruseimy. Dalam sambutannya, Vasco mengapresiasi kolaborasi tersebut dan meminta peserta menjadikan kecintaan terhadap alam sebagai komitmen nyata menjaga lingkungan.
“Sebagai pecinta alam, jaga kelestarian lingkungan dan perhatikan etika. Alam memiliki aturan yang harus kita indahkan,” pesan Wagub.
Ketua KPA Bias, Khalid Saifullah Rajo Basa, merinci total hadiah Rp106 juta tersebut akan diperebutkan oleh 324 peserta yang terbagi dalam 81 tim (46 tim pelajar dan 35 tim umum). Pemenang kategori terbaik I akan mendapat Rp10 juta, terbaik II Rp7,5 juta, terbaik III Rp6 juta, serta bonus kupon undian (doorprize) total Rp10 juta.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumbar, Tasliatul Fuadi, menjelaskan rute sepanjang 40 kilometer ini dibagi dalam dua etape. Etape pertama dimulai dari SMAN 11 Padang menembus hutan Baringin dan bermalam di Gua Kelelawar Padayo. Etape kedua berlanjut melewati hutan Gaduik, Pauh V, hingga finis di Kantor KAN Pauh IX Kuranji.
Lokasi start ini sendiri dialihkan ke Bungus akibat bencana longsor di pusat pemerintahan Kabupaten Solok. Berbeda dari tahun sebelumnya, penilaian LLA-TJPHK V kini hanya berfokus pada kecepatan waktu. Peserta juga dibekali materi diskusi sejarah oleh akademisi Universitas Andalas, Hari Efendi Iskandar. (y)





